Menjaga Integritas

Dalam kurun waktu dua minggu ini, secara kebetulan saya menemukan kasus pencurian aset bisnis berupa database. Ini mengingatkan saya pada salah satu ujian dalam bisnis (juga dalam kehidupan sehari-hari), yakni INTEGRITAS.

Integritas adalah salah satu standar kualitas pribadi, yang berkenaan dengan kekuatan dalam memegang prinsip berupa kejujuran, moral, konsistensi, atau etika.  Dalam kehidupan keseharian, Integritas menjadi salah satu sandaran dalam menilai seseorang. Siapa kita, ditentukan oleh integritas kita. Mereka yang memiliki integritas kuat akan memilih tetap pada cara atau sikap yang dipercayainya benar, sekalipun itu sulit.

Ujian dalam bisnis beragam bentuknya. Salah satunya adalah keinginan untuk mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat, dengan memanfaatkan aset milik orang lain secara ilegal. Misalnya: mencuri database pelanggan, membajak software, menjual rahasia perusahaan rekanan, mengkhianati partner bisnis, dan sebagainya.

Cara-cara seperti itu, memang bisa membawa keuntungan dengan cepat. Namun ongkosnya juga besar. Sebab, sekali kita mengorbankan integritas, orang lain akan terus mengingat itu. Dan pada gilirannya, cepat atau lambat, kita akan terkena dampaknya juga. Orang sering bilang, itu Karma. Siapa menabur, akan menuai. Siapa yang menukar integritas dengan keuntungan sesaat, akan kehilangan kepercayaan dari orang lain. Brand Dirinya akan cacat.

Lalu bagaimana cara untuk mencegah kita melakukan itu, sementara godaan di depan mata sangat besar?

Tidak ada jalan lain, kecuali melatih diri untuk berpegang pada integritas yang kita yakini. Jika suatu saat kita tergoda untuk memburuk-burukkan partner bisnis demi mendapatkan sebuah deal, cobalah untuk diam sejenak, dan mempertimbangkan kembali. Sebisa mungkin, hindari perilaku itu.

Jika suatu saat kita tergoda untuk mencuri database atau rahasia perusahaan, kemudian menggunakannya untuk mendirikan bisnis serupa, tahan keinginan itu dan batalkan. Lebih baik pelajari sektor bisnis tersebut sebaik-baiknya, dan jalin networking seluas mungkin. Jika tiba saatnya, kita bisa mendirikan bisnis serupa berbekal pengalaman serta networking yang sudah dibangun sebelumnya, tanpa harus mengorbankan hubungan baik dengan perusahaan tempat kita bekerja sebelumnya.

Banyak orang bersikap permisif, dengan alasan bahwa hal-hal itu sudah biasa dilakukan dalam bisnis. Memang benar, realita dalam bisnis bisa demikian adanya. Hal-hal yang berkaitan dengan etika, seringkali dilanggar, demi sebuah keuntungan.

Bagi saya, itu sebenarnya pilihan pribadi. Seseorang bisa memilih untuk bersikap permisif, bisa juga memilih bersikap selektif dan berhati-hati saat menghadapi pilihan yang menguji integritasnya. It’s our own choice. Namun ingatlah dengan prinsip: Kita, adalah apa yang kita pilih atau lakukan.

If it is not right, do not do it. If it is not true, do not say it (Marcus Aurelius). 

—————-
Semoga artikel ini bermanfaat. Jika Anda memerlukan konsultasi seputar Personal Branding, dapat menghubungi Artha Julie Nava di email: info@jnconsulting-indo.com, atau mengisi form yang tersedia di laman Contact.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s