Mengakui Kealpaan

Satu hal yang paling sukar dilakukan adalah “Admittting mIstakes”, mengakui kesalahan yang kita lakukan.

Bisa dimengerti, sebab dengan mengakui, artinya kita meletakkan diri dalam posisi yang rawan. Sebagaimana halnya tidak semua orang memiliki keberanian untuk secara terbuka melihat ke dalam diri sendiri, demikian juga halnya; tidak semua orang punya kemampuan untuk mau mendengarkan dan membantu orang yang hendak berubah ke arah yang lebih baik.

Namun yang jarang disadari orang, sebenarnya dengan mengakui, kita justru lebih mudah untuk membebaskan diri. Sebab, kita tidak mudah terjebak dalam sikap defensif. Misalnya: menganggap diri sebagai satu-satunya pihak yang benar, dan menimpakan semua kesalahan kepada pihak lain. Kita juga bisa merunut akar permasalahan dengan jernih, dan mencari jalan keluarnya. Membantu kita mengurangi keinginan mencari pembenaran (excuse).

Setiap orang pasti pernah mengambil keputusan keliru dalam hidupnya. Bisa berupa keliru memilih jalur karir, memilih pasangan hidup, menentukan kebijakan, memperlakukan orang lain. Macam-macam jenisnya. Yang semua itu akhirnya bermuara pada ketidakseimbangan, rasa bersalah, atau ketidakpuasan. Jika kita salah memilih jalur karir misalnya, tentu kita merasa tidak puas, stagnan, merasa tidak berdaya, dan mempertanyakan kemampuan diri sendiri.

Banyak orang merasa, “Kok saya merasa sulit berprestasi? Kok saya tidak merasa punya energi dan motivasi dalam bekerja? Tidak seperti teman-teman saya yang lain. Apa yang salah dengan diri saya?” Jawabannya adalah: bisa jadi karena ada keputusan yang keliru awalnya. Mungkin salah memilih jalur, mungkin keliru menempatkan motivasi, mungkin juga kurang pas dalam berperilaku. Apapun itu, catatlah, lalu akui bahwa memang ada blunder selama ini.

Setelah mengakui, carilah akar penyebab masalahnya, dan catatlah. Mencatat, sangat membantu kita untuk mengurai jejak permasalahan dan menemukan solusi. Juga, membuat pikiran kita lebih fokus. Sebab semuanya tertulis, dan bisa kita baca ulang.

Selanjutnya, carilah di mana saja kita membuat excuse (pembenaran). Excuse tidak menyelesaikan masalah. Misalnya, Anda jarang olahraga, dan excusenya adalah tidak punya waktu. Benarkah tidak punya waktu? Jam berapa Anda bangun tidur sebenarnya? Jam berapa aktifitas kerja dimulai? Di waktu apa saja Anda bisa meluangkan waktu barang 15 – 30 menit untuk olahraga? Dan, yang sangat penting adalah, SUDAHKAH Anda mencoba melakukannya? Jika belum, maka alasan tidak punya waktu itu hanyalah excuse Anda semata.

Proses mengakui kekeliruan ini bisa diterapkan di hampir semua hal. Kehidupan rumah tangga, bisnis, profesi, kehidupan sosial. Dan rata-rata, hampir setiap permasalahan, jika diakui dan dicari akar penyebabnya, pasti akan ada jalan keluarnya. Mengakui kekeliruan, tidak akan membuat kita lemah. Justru sebaliknya. Kecuali kalau kekeliruan itu dilakukan berulangkali dan tanpa upaya perbaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s