Second Opinion Matters

smokealarm“How to Grill Your Soup.”
Itu judul artikel jenis How-To yang disodorkan oleh suami dan anak saya, sebagai olok-olok. Pasalnya, hari ini saya hampir bikin dapur terbakar, gara-gara lupa kalau sedang memanaskan sepanci sup. Panci menghitam legam. Potongan sayur di dalamnya sampai kisut seperti kismis, dan asap tebal menyelubungi rumah.

Pagi itu kami sarapan di luar. Hampir satu jam lamanya menikmati sarapan, ketika hape suami berdering. Layar hape menunjukkan gambar simbol lingkaran berwarna kuning yang seperti berdenyut, tanda alarm peringatan di rumah berbunyi.

“Wah, kok alarm asap, ya?” kata dia.

Saya mengingat-ingat. Apa skring listrik? Rasanya enggak. TV? Juga tidak dinyalakan. Dapur? Astaga…. barulah di saat itu saya ingat, dan buru-buru kami pulang ke rumah.

Kami membeli alarm untuk mendeteksi asap di rumah. Beberapa brand kami perhatikan, dan kami bandingkan fitur serta reviewnya. Termasuk juga memperhatikan saran dari beberapa teman yang pernah memakai brand tertentu. Ada yang fiturnya menjanjikan suara lebih nyaring, deteksi asap lebih akurat, desain lebih cantik, dan bisa diintegrasikan dengan sistem alarm lainnya. Termasuk nantinya bisa dihubungkan dengan kontak pada polisi atau 911. Sehingga, jika ada bahaya, polisi atau pemadam kebakaran bisa langsung dikontak, dan akan datang untuk membantu.

Keputusan pertama kami, lebih banyak didasarkan pada pertimbangan “rasional”. Yakni dengan membandingkan fitur, desain, serta harga. Namun untuk loyalitas, keputusan kedualah yang lebih menentukan. Yakni setelah melihat sendiri, bagaimana sistem alarm tersebut berfungsi, ketika insiden panci gosong di dapur terjadi.

Dari kejadian itu, kami bisa melihat bagaimana sistem alarm asap yang kami miliki, berfungsi dengan sangat memuaskan. Sinyal peringatan diterima dengan baik melalui handphone, suara alarm nyaring terdengar, dan warna alarm tetap merah selama asap masih belum hilang. Kami puas, dan memutuskan untuk lain kali membeli produk alarm lain dengan brand sama, dan akan merekomendasikannya kepada teman.

Second opinion matters. Setelah melihat bukti, di situlah terbangun loyalitas terhadap sebuah brand.

Adakah yang pernah mengalami hal serupa seperti ini? Di mana rasa loyal terhadap sebuah brand, terbentuk otomatis begitu sudah melihat bukti nyata di depan mata? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s