Harga Sebuah Brand

5fgfdz-price-it-rightSaya tadi kebetulan ditanya tentang HARGA SEBUAH BRAND. Menurut satu orang, harga produk itu (parfum) murah. Yang satu lagi menganggap, harga parfum itu mahal. Tetapi, dua-duanya mau beli.

Mengapa demikian?

Inilah salah satu tema dalam Branding 101. Basic knowledge.

Harga, adalah sebuah patokan yang RELATIF. Tidak hanya semata-mata soal jenis produk, melainkan juga ada pertimbangan benefit, selera, demografi customer, positioning sebuah Brand, balance antara kualitas dan waktu, dan lainnya.

Ketika kita bikin Brand, pada saat itu kita juga sekaligus memikirkan positioning Brand kita. Mau ditaruh di mana, di antara kompetitor yang lain. Kemudian mau pasang harga berapa. Apa saja benefit yang didapat dengan harga sekian. Apa saja keunikan/nikai lebih yang ada. Dan bagaimana kita nanti membangun emosi dengan customer, sehubungan dengan Brand itu.

Brand itu ada unsur emosinya. Ada nyawanya. Dan sebagaimana layaknya sesuatu yang “bernyawa”, maka pasti ia akan bisa menarik unsur lain yang bernyawa juga. Yakni customer.

Salah satu problem yang kerap tidak disadari ketika orang menawarkan jasa/produk, adalah: ingin menyenangkan semua orang. Jadi ketika ada yang menawar dengan harga sampai keterlaluan, masih juga diladeni, dengan harapan ybs mau menjadi customer. Padahal itu harapan yang keliru. Sebab kalau sudah punya brand, artinya kita sudah tahu patokan kita di mana. Dan seberapa jauh batas untuk bisa ditawar atau dinegosiasi.

Brand-brand yang sudah besar, jarang sekali kasih diskon atau ruang untuk negosiasi. Sebab ikatan emosi dan nyawanya sudah kuat.

Coba perhatikan brand-brand yang elit, semacam Versace, Bentley, Lamborghini, dan lain-lain. Itu nggak akan memberi ruang terlalu banyak untuk tawar-menawar. Sebab yang datang sudah spesifik. Yakni mereka yang punya sisa uang di kantongnya, seharga produk itu. Atau orang yang cinta banget, atau niat bener pengen beli. Jadi sudah spesifik, khusus, dan koneksi emosinya kuat.

Jadi teman-teman yang sudah punya Brand, musti memperhatikan hal ini juga 🙂 misalnya di awal, dalam karir atau bisnis, masih perlu bangun basic customer, maka oke-oke saja menawarkan diskon atau hal gratis. Tetapi selanjutnya, sudah harus mulai funneling. Dari sekian banyak penerima jasa gratis, mana yang potensial jadi repeated customer, mana yang potensial jadi calon pelanggan yang mau dengan harga yang sudah dipatok, dan mana yang hanya freebie junkies. Fasilitas dan kualitas, perlu dipertimbangkan, sesuai kategori masing-masing.

Ada rupa, ada harga. Demikian, bukan?
——–

Artha Julie Nava
Certified Personal Branding Strategist
Certified Social Branding Analyst

—————
Picture source: http://rethinkrealestatenj.com/wp-content/uploads/2015/08/5fgfDZ-price-it-right.png

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s