Selebriti dan Perempuan

life-planSejak semalam hingga bangun tidur, saya berpikir tentang dua kelompok yang lumayan rawan berantakan konsep brandingnya. Yang pertama yakni selebriti. Dan yang kedua adalah perempuan.

Selebriti, jarang sekali yang popularitasnya bertahan lama. Lebih banyak yang kandas, begitu mencapai masa tertentu. Biasanya yang demikian, tentu saja adalah yang kemampuan/bakatnya pas-pasan, hanya mengandalkan kelebihan fisik, atau tidak punya peta jelas akan ngapain pada tiap masa. Mereka mudah kena distraction. Entah itu berupa jebakan sensasi/gosip, maupun perilaku yang destruktif (misalnya: terlibat narko, konflik dengan sesama selebriti, pernikahan yang kacau, manajemen keuangan yang berantakan, dan lain-lain). Sehingga, alih-alih audience disuguhi sajian bakat atau seni kreatif yang berkualitas; yang terjadi malah setiap hari disuguhi berita yang tidak jelas mengenai sang selebriti.

Perempuan juga demikian. Masanya terbilang pendek. Biasanya, itu terjadi ketika mereka memasuki masa pernikahan. Pernikahan adalah perombak besar dalam kehidupan perempuan. Semuanya bisa berbalik 180 derajat. Dan jika itu dilalui tanpa peta yang jelas, maka branding diri mereka juga akan kacau.

Kedua kelompok ini, perlu berpikir “BEYOND NOW”. Lebih panjang dari sekedar yang mereka miliki atau jalani saat ini.

Untuk selebriti, perlu memperhatikan, aset apa saja yang bisa bernilai panjang. Kecantikan/Ketampanan, jelas bukan aset yang valuenya bisa bertambah. Ia akan luntur dengan waktu, dan masanya pendek sekali. Setiap saat akan selalu muncul orang lain yang siap menggantikan. Popularitas, bisa berjangka panjang atau bisa juga pendek. Begitu terjebak hanya pada mengandalkan berita sensasional, maka di saat itu sebenarnya valuenya sudah berkurang. Untuk jangka panjang, brand diri yang bersandar pada sensasi, tidak menguntungkan. Sedangkan bakat, itu sifatnya jangka panjang. Namun tanpa planning yang tepat, tanpa sandaran basis brand yang jelas, maka statusnya akan sama. Tidak akan jadi aset, melainkan liability, dan masanya juga akan pendek.

Untuk perempuan, perlu berpikir lebih dari sekedar mencapai target berupa pernikahan. Frame berpikir yang sering saya temui pada sebagian perempuan adalah, mereka terlalu memusatkan perhatian pada menjadikan pernikahan sebagai titik final pencapaian. Bukan memandang pernikahan sebagai salah satu fase yang harus dilalui dalam hidup.

Ini yang kemudian menjadikan banyak dari mereka, terjebak pada situasi yang serba mengambang, dan brand dirinya berputar tanpa arah yang jelas. Sebab dari awal memang tidak ada antisipasi. Everything seems perfect seperti Cinderella. Padahal begitu menjalani kehidupan nyata, tidak demikian adanya. Itu sebabnya, pada rekan perempuan yang masih single, saya sering berkata, “Raih segala yang kamu inginkan, selagi ada waktu. Pikirkan apa yang sebenarnya kamu maui dalam hidup. Dan terutama, persiapkan hendak ke mana hidupmu akan diarahkan setelah pernikahan. Apa yang sekarang kamu miliki, apa yang bisa kamu kembangkan, dan bagaimana menggunakan itu untuk jangka panjang.”

Membangun Brand Diri, adalah urusan visi masa depan. Jika tak tahu apa yang hendak dibangun, tak tahu apa saja modal yang dimiliki, tak tahu hendak ke mana, maka tentu tak akan bisa memiliki Brand Diri seutuh yang diharapkan.

——————————————
Artha Julie Nava
Certified Personal Branding Strategist | Certified Social Branding Analyst

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s