Indonesia Naik Kelas

ranking-do-inpi-cpqd-em-destaque-957x1030Dua hari lalu, Transparency International mengeluarkan laporan Indeks Korupsi 2016. Ini adalah laporan tahunan mengenai ranking korupsi di berbagai negara di seluruh penjuru dunia.

Seperti biasa, dalam mapping, Indonesia masih berwarna merah. Namun sebenarnya, jika dilihat dari ranking, Indonesia sudah naik kelas.

Sepuluh tahun lalu (2006), Indonesia berada di urutan ranking 130. Nilai yang buruk sekali. Satu level dengan Ethiopia, Papua Nugini, Zimbabwe, Burundi. Itu negara-negara yang tidak saja miskin, tetapi juga korupsinya gila-gilaan. Menyedihkan, bukan?

Tahun 2011, Indonesia melompat ke urutan 100. Satu kelas dengan Madagaskar, Meksiko, Suriname, Tanzania, Argentina, Gabon. Lumayan lah. Tidak senyungsep sebelumnya.

Tahun 2016, lompatannya lebih tinggi lagi, yakni berada pada urutan ke-90. Satu grup dengan Kolombia, Maroko, Makedonia, dan Liberia.

Kemudian, saya bandingkan juga perkembangan tersebut dengan Business Climate Ranking yang dirilis setiap tahun oleh World Bank. Hasilnya juga menunjukkan perkembangan menggembirakan, meskipun tentu saja belum sampai sekeren Singapura yang nyaris selalu ada di ranking 3 besar di dunia dalam hal kualitas.

Untuk soal kenyamanan berbisnis, tahun 2006, Indonesia berada pada ranking 115. Tahun 2011, negara kita nyungsep ke ranking 121 (ada apakah gerangan di tahun itu?). Kemudian, tahun 2016 naik ke ranking 109, dan tahun 2017 naik lagi ke ranking 91.

Sebuah perkembangan yang signifikan, bukan? Branding Indonesia sebagai negara yang korup dan sulit untuk perkembangan bisnis, lambat laun mulai membaik.

Saya optimis, jika kerja keras yang sudah dilakukan saat ini di Indonesia dalam hal pemberantasan korupsi dan mempermudah sistem untuk perkembangan bisnis dilanjutkan, kita bisa naik kelas terus. Apalagi jika tingkat suap-menyuap juga berkurang.

Banyak orang tidak menyadari, bahwa mengembangkan bisnis atau apapun dengan tradisi suap, sebenarnya adalah bisnis yang merugi dalam jangka panjang.

Beberapa bisnis memang bisa jadi kuat dan maju karena memberikan upeti atau konsesi kepada pejabat/kalangan tertentu. Namun, tradisi itu akan berdampak pada brand perusahaan tersebut. Yakni pada reputasinya. Dan lebih jauh lagi, itu akan menarik SDM dengan perilaku serupa ke dalamnya. Jadilah kemudian staff, pimpinan, dan lain-lain terdiri dari orang-orang bermental korup dan berdaya saing rendah. Sementara tenaga kerja yang bermental bagus serta memiliki kualitas top, akan lari mencari alternatif lain.

Semoga di tahun mendatang, prestasi Indonesia menanjak lagi. Kita perlu memperhatikan lebih banyak perubahan positif yang terjadi di negara kita, ketimbang memberi perhatian yang terlalu besar pada problem. Seolah-olah problem tidak mungkin diselesaikan.

Maju terus, untuk Indonesia!

——–

Artha Julie Nava
Certified Personal Branding Strategist | Certified Social Branding Analyst

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s