Being Extraordinary

ants20extraordinary20coveyPernahkah kita dapat pengalaman buruk, tapi masih nggak kapok makan di restoran tertentu?

Saya pernah.

Waktu itu, saya makan di sebuah restoran yang menyediakan menu unggulan bernama Coney Island Hotdog/Coney Dog. Ia adalah makanan berupa hot dos (sejenis sosis), yang ditangkup oleh roti, disiram saus daging, mustard, dan ditaburi bawang bombay. Kadangkala ada tambahan taburan keju parut di atasnya.

Di Detroit, ada dua penyedia menu coney dog yang kondang. Yakni Lafayette Coney Island dan American Coney Island. Keduanya terletak berdampingan, dan memiliki penggemar fanatik masing-masing. Mulai dari orang lokal, politisi, hingga selebriti Hollywood. Bahkan saking fanatiknya, sampai-sampai ada sebagian penggemar yang bersumpah tidak akan menjejakkan kaki di resto sebelahnya.

Padahal kalau dilihat dari penataan restoran, tidak ada yang terlalu istimewa. Lafayette berupa bangunan tua. Mejanya juga sudah tua. Dinding, dapur, meja counter, tidak beda.

Pramusaji yang bertugas mencatat pesanan, kadang-kadang menjawab dengan ekspresi seperti burung hantu lagi bete, “Kamu pesan apa?” Dan jika ada customer berbasa-basi bertanya, “Apa rekomendasimu?”… dia akan menjawab, dengan ekspresi mata betenya, “The best coney island in the world.”

Begitu pun, banyak orang tetap datang.

Pengalaman lain lagi, dialami oleh suami. Ada sebuah restoran kebab dekat kantornya yang selalu ramai. Orang sering mengeluhkan pelayanannya yang buruk. Kadang customer minta tambahan air minum, si pramusaji mengajaknya ngobrol, dan berlalu. Lupa mengisi gelas minum si customer. Tidak jarang juga pelayanannya lama. Stafnya terkesan malas. Tapi herannya, banyak customer yang komplain namun tetap datang ke sana.

Rahasianya ternyata ada pada rasa. Makanannya terbilang lebih enak dibandingkan resto kebab lain di sekitarnya, dan harganya lebih bersahabat. Cocok untuk kantong orang-orang kantoran yang ingin makan enak dan banyak dengan harga murah.

Being extraordinary, alias unggul banget di sebuah unsur diri/brand, bisa membantu memperbaiki kekurangan di sisi lainnya. Itu sebabnya, saya sering menganjurkan untuk fokus pada kelebihan/keunggulan diri yang dimiliki, ketimbang menghabiskan waktu untuk memperbaiki kekurangan/kelemahan.

Bukan berarti kita tidak peduli dengan kelemahan diri yang dimiliki. Namun prioritasnya adalah memelihara dan meningkatkan keunggulan. Yang kurang, bisa diperbaiki sambil jalan, terutama jika itu potensial merusak keunggulan.

Fokus pada keunggulan yang kita miliki, adalah salah satu basis untuk memperkuat brand. Temukan setidaknya tiga keunggulan diri kita yang paling utama, dan fokuslah di situ.

Mengapa cuma tiga? Sebab, kemampuan rata-rata dari orang lain untuk mengingat hal khusus tentang kita, sangat terbatas. Semakin kita bisa spesifik dan singkat, semakin mudah bagi orang lain untuk hafal dan mengingat kita.

Selamat menikmati akhir pekan, dan selamat menjadi The Extraordinary dalam bidang Anda!
———————————–

Artha Julie Nava
Certified Personal Branding Strategist | Certified Social Branding Analyst

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s