Ikhlas Menerima dan Melepas

dirty-clean-waterMalam ini kebetulan saya buka buku jurnal, dan membaca kembali tulisan tangan saya di dalamnya.

Ada salah satu yang hendak saya bagi, yakni ketika saya mengalami problem berat.

Di catatan itu saya tulis, ada orang yang kesehariannya berjualan kopi keliling. Tidurnya di pinggir jalan bersama anaknya. Namun ia tidak mengeluh. Ia menjalani hidupnya dengan senang. Dan salah satu kebanggaannya adalah, ia dikaruniai anak-anak yang cerdas. Salah satunya bahkan dikirim ke Kanada pada usia 15 tahun.

Ada juga orang yang bangkrut usaha kateringnya hingga menanggung hutang 2 miliar. Dicerai pula oleh suaminya yang tertarik pada wanita lain. Hingga ia harus berjuang sendirian membesarkan 4 anak. Namun ia bisa bangkit lagi dan memulai usaha hanya dengan modal 200 ribu rupiah. Sampai akhirnya ia berhasil meraup untung 50 juta tiap bulan.

Mengapa orang-orang itu jadi berhasil?

Salah satunya yang saya tangkap adalah, mereka menerapkan prinsip IKHLAS. Sang ibu penjual kopi keliling itu, ikhlas saja menerima perjalanan hidupnya meskipun harus berjualan dan tidur di gerobak. Sang ibu yang harus menanggung hutang 2 milyar itu, akhirnya juga ikhlas melepas semua masa lalunya. Ikhlas melepas rasa marah pada mantan suami, dan ikhlas menerima musibah sebagai bagian dari perjalanan dirinya.

Kadang kita tidak terima nasib, dan marah ketika mendapatkan musibah. Seperti yang sempat saya alami.

Namun untungnya, saya menemukan kisah mereka di internet. Yang akhirnya menyadarkan saya, bahwa tidak ada gunanya menyimpan marah, sakit hati, dan aneka emosi negatif.

Diri kita ibarat gelas. Jika isinya air keruh atau comberan, bagaimana kita hendak menggunakannya sebagai wadah air minum? Yang perlu kita lakukan pertama kali tentu membersihkan dulu gelas itu, barulah kemudian siap diisi dengan air jernih yang bisa diminum.

Menerima, memaafkan masa lalu, dan melepaskan semua emosi buruk; sebenarnya itu semua demi kesehatan kita sendiri. Juga demi masa depan kita.

Bayangkan jika hati kita terus diisi dengan api berupa kemarahan, dendam, sakit hati. Apa yang akan terjadi? Hati kita nanti tak ubahnya seperti tembikar. Padat mengeras, dan akan hancur jika dibanting.

Tetapi lain halnya jika hati kita disiram air. Tentu yang terjadi adalah rasa sejuk, hati yang subur dan siap ditanami dengan hal-hal baik, serta menyegarkan bagi setiap orang. Air juga tidak akan pecah jika dibanting. Paling banjir doang wkwkwkwkwk…

Poinnya adalah: mari ikhlas menerima semua yang pernah terjadi pada kita. Dan ikhlas melepaskan semua hal negatif yang selama ini mengungkung langkah kita sendiri.

Tidak ada untungnya menyimpan dendam atau kemarahan. Lepaskan, serahkan semuanya pada Tuhan, terimalah bantuan dari Allah berupa hal-hal baik sebagai penggantinya. Insyaallah hidup kita akan terasa lebih tenang.

Selamat menjemput hari, dan selamat mewujudkan mimpi. Sukses adalah pilihan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s