Terbelit Moody Hingga Pekerjaan Terbengkalai? Mungkin Ini Penyebabnya!

MietzepeterYang paling sering ditanyakan orang setiap kali saya mengisi sesi Menulis ataupun Branding adalah soal MOODY. Ia istilah yang digunakan untuk menggambarkan salah satu suasana mental kita yang naik turun, antara enggan dan ingin meneruskan aktifitas, dan gangguannya bisa sampai ke taraf kita marah-marah nggak jelas, curhat nggak jelas, dan aneka suasana hati yang negatif lainnya.

Banyak orang bertanya, apa resep ampuh untuk mengatasi Moody. Sebab memang iya, Moody itu mengganggu produktifitas. Jika tidak diatasi, itu bisa membuat kita tidak mampu mencapai goal yang diharapkan.

Moody itu hanya bisa diatasi oleh kita sendiri. Bukan dengan obat khusus atau kehadiran motivator paling fenomenal sekalipun. Sebab saya sering melihat sendiri, bahkan sekalipun ditangani motivator jempolan, masih ada juga yang mogok mesinnya hehehehe…. jadi belum tentu motivator, mentor, trainer, coach, guru atau siapapun, bisa menyulap orang moody menjadi tak moody.

Alasan lain mengapa saya mengatakan itu hanya bisa diatasi oleh diri sendiri adalah, karena sumbernya memang berasal dari dalam diri kita.

Kita sering tidak menyadari bahwa diri kita sendiri bisa menjadi penghambat paling besar. Ketidakmengertian tentang siapa kita, apa yang diinginkan dalam hidup, visi, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan diri sendiri. Itu bisa menjadi penghambat langkah kita.

Berikut ini adalah beberapa sumber penyebab Moody yang berasal dari diri sendiri:

1. Suka Menunda

Jika teman-teman mencari informasi via Google dengan kata kunci “procrastination” (menunda), pasti dengan mudah bisa menemukan sejumlah hasil studi tentang efek negatif dari menunda. Di antaranya adalah beban psikologis berupa rasa bersalah, rasa tak mampu yang semakin besar, dan rasa ingin lari dari tugas. Akhirnya jadi moody.

Banyak orang beralasan, mereka bisa kerja lebih baik di bawah tekanan, dan karenanya lebih memilih menunda hingga mepet tanggal. Padahal sebenarnya tidak demikian. Kualitas pekerjaan yang dilakukan saat menjelang deadline, tidak banyak beda dengan yang dilakukan jauh sebelum deadline. Bahkan dalam banyak kasus, hasilnya justru lebih buruk.

2. Bukan Minat yang Sebenarnya

Banyak orang menjalani pekerjaan tertentu karena terpaksa atau dipaksa orang lain. Ini bisa menyebabkan gangguan berupa Moody. Sebab kalau kita merasa terpaksa, kita tidak akan sepenuh hati menjalaninya. Bahkan selalu terpikir untuk segera lari dan menyudahi, dan berangan-angan untuk segera pindah ke pekerjaan lain. Kalau tidak segera mendapat alternatif, maka jadilah ia terkena Moody.

3. Belum Mengerti Diri Sendiri

Saya sering menemui kasus ini dalam kelas Branding. Mereka yang kurang leluasa mengekspresikan diri sendiri, seringkali dihinggapi oleh si Moody ini. Karena ya itu, ada rasa tidak bahagia, karena sepanjang hidupnya, mereka tidak terbiasa mengungkapkan diri mereka yang sebenarnya.

Ini banyak terjadi dalam masyarakat kita, salah satunya karena kebiasaan mengarahkan anak untuk mengikuti “cita-cita orangtua” ketimbang cita-cita si anak sendiri. Sehingga saat dewasa, sang anak tidak terbiasa untuk mengenali apa sebenarnya yang dia inginkan dalam hidup. So, ini pelajaran penting. Dorong anak-anak kita untuk mengeksplorasi kemampuan mereka sejak dini, dan untuk nyaman dengan diri mereka sendiri 🙂 agar kelak mereka tak gampang kena Moody.

4. Tak Punya Goal Jelas

Ini bisa menghinggapi mereka yang sering ikut-ikutan. Temannya ke sana, ikut ke sana. Temannya ke sini, ikut pula ke sini. Tidak punya goal jelas atau alasan jelas mengapa ia melakukan itu. Akhirnya, karena serba tidak jelas, ia jadi bingung sendiri dan terkena Moody.

5. Alasan yang Keliru

Ini pernah menimpa saya. Selama beberapa waktu, saya beraktifitas dalam bidang Branding dan Menulis. Itu dua bidang yang sudah jelas adalah passion saya. Namun mengapa saya masih sering uring-uringan alias Moody?

Ternyata setelah melalui serangkaian self-analysis yang saya lakukan, terkuaklah penyebabnya. Yakni karena selama ini, saya melakukan itu dengan alasan yang keliru. Semua aktifitas saya tujukan hasilnya untuk kebutuhan orang lain. Padahal dalam hati kecil, saya ingin memprioritaskan keluarga dulu sebenarnya. Juga ingin memprioritaskan kebutuhan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum kemudian membantu orang lain.

Setelah melakukan perubahan orientasi, kini saya merasa bersemangat kembali. Saya jadi tahu persis apa alasan saya melakukan aktifitas itu. Tidak sekedar karena passion, namun juga jelas tempatnya: untuk siapa, dan mengapa. Tidak ada lagi perasaan bersalah, karena dengan tegas saya bisa melepas hal-hal yang tadinya tidak pas, menjadi lebih tepat sasaran.

6. Kelelahan Akibat Kurang Tidur

Badan yang letih bisa membuat orang jadi Moody. Terutama bagi mereka yang kurang tidur atau sering begadang. Penyebabnya adalah, karena hormon-hormon dalam tubuh kurang bisa bekerja optimal. Mereka dipaksa untuk bekerja di saat di mana seharusnya pekerjaan mereka digantikan oleh hormon lain.

Kurang tidur juga menyebabkan sel-sel tubuh tidak sempat melakukan reparasi. Dan sebagai akibatnya, sel-sel yang seharusnya menjalani masa perbaikan, terpaksa harus bekerja overdosis. Akhirnya tubuh menjadi letih, dan emosi mudah terpancing.

Jika selama ini ternyata pekerjaan yang kita lakukan banyak menyita waktu istirahat, cobalah untuk mengaturnya kembali. Agar si Moody tidak datang dan menghambat langkah kita selanjutnya.

Itulah enam di antara penyebab Moody. Terlihat banget bukan, kalau semua sebenarnya bersumber dari diri sendiri? 🙂

Selamat menikmati, dan semoga bisa mengalahkan Moody. Sukses adalah pilihan kita sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s