Mari Bicara Tentang Passion

o-passion-facebookBaru saja saya usai mengampu kelas online, dengan tema “Riset dan Hak Cipta”. Dan baru saya sadari juga, bahwa ternyata saya sudah mengampu tema itu sejak lama. Bahkan melakukannya sejak lama juga. Sejak lulus dari kuliah, pekerjaan saya banyak berkaitan dengan survey, wawancara, menulis laporan, cross check info, eksperimen, melakukan penelitian, dan menjelaskan di depan umum. Ternyata hingga sekarang, hal itu tetap saya lakukan.

Banyak orang di sekeliling saya, yang tidak sadar ketika saya jadikan obyek eksperimen. Dan kadangkala, itu otomatis juga saya lakukan. Di otak seperti sudah terprogram demikian.

Riset, bagi saya, ibarat makan nasi dan menghirup oksigen. Nggak bakalan bisa hidup jika tidak melakukan itu.

Dalam keseharian pun, di lingkungan non kerja, aktifitas itu ternyata saya lakukan juga. Sering ada request dari teman untuk ngecek sebuah profil, ngecek website, ngobrol tentang isu tertentu, dan otomatis jari-jemari bergerak mengetik kata kunci di Google.

Bahkan untuk urusan jodoh pun, banyak teman perempuan yang request ke saya untuk “kepo” Facebook pria idamannya. Nah ini aktifitas yang fun, karena saya bisa bikin mereka nangis-nangis dengan komentar yang disengaja, “Lah, kok awakmu gelem to nduk karo wong iki? Elek ngunu.” Wkwkwkwkwk….

Pernahkah teman-teman merasakan hal yang demikian? Nah, jika pernah, itulah salah satu ciri dari yang namanya PASSION. Sesuatu yang lebih dari sekedar hobi, lebih dari sekedar pekerjaan.

Passion adalah sumber motivasi yang tak pernah padam. Beruntunglah mereka yang bisa bekerja atau berbisnis sesuai passion. Sebab itu akan memberi mereka unlimited energy. Sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam sebuah kesuksesan.

Tetapi, menemukan apa sebenarnya passion kita, bagi sebagian orang, bukanlah hal mudah. Terutama jika mereka sudah terbiasa diharuskan bekerja di lingkungan yang tidak sesuai. Misalnya demi harapan ortu, demi harapan masyarakat. Sehingga, mereka jadi asing dengan diri sendiri. Asing dengan passion aslinya, dan gagap ketika dihadapkan pada pertanyaan: Passionmu apa?

Inilah salah satu penghambat kita dalam menata dan mengembangkan Brand Diri. Jika kita sudah asing dengan diri sendiri, karena saking terbiasanya menjadi orang lain, maka akan perlu waktu lebih lama untuk menggali dan membersihkannya lagi.

Namun bukan berarti itu tidak mungkin 🙂 Hampir semua hal di dunia ini adalah “barang katon”. Hal yang nyata, terlihat, bisa dicari, bisa diubah, bisa dimiliki. Tidak ada yang tidak mungkin, selama kita tahu apa yang kita inginkan, dan tahu kemana serta bagaimana mencapainya.

Bagi yang masih sering bimbang dengan Passion Calling-nya, coba sejumlah teknik berikut ini:

– Pikirkan, apa yang paling sering kita bicarakan? Apa topik-topik yang membuat kita antusias membicarakannya?
– Apa saja hal-hal yang sering kita lakukan, dan kita nyaman saat melakukannya? Baik itu secara sadar atau tidak. Seperti ada energi yang timbul, dan membuat kita bergegas mengerjakannya.
– Apa saja hal-hal, yang kalau kita terhambat mengerjakannya, itu akan membuat kita seperti lampu kehabisan minyak?

Itulah tiga pertanyaan sederhana yang bisa dijadikan patokan. Selanjutnya, tinggal menggali, menerapkan, dan mengamati, apakah benar hal-hal itu bikin kita bahagia. Jika jawabannya ya, maka bedar kemungkinan itulah Passion kita.

Passion brings us happiness, and money as well.

Selamat menggali Passion masing-masing!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s