Collateral Damage?

picture-collateral-damage-dreamstime_l_22516896-1Bentrokan antar brand terus berlanjut di sini, yang porosnya terpusat pada Trump. Kali ini yang babak belur dibully adalah brand Ivanka Trump.

Nordstrom, jaringan gerai yang menjual brand-brand terkemuka, mengeluarkan pernyataan bahwa mereka memutus kerjasama dengan brand Ivanka, karena alasan tingkat penjualan produk dari brand tersebut terus menurun, dan tidak lagi menguntungkan.

Namun beberapa saat sebelumnya, Nordstrom mengeluarkan edaran kepada seluruh karyawannya, bahwa Nordstrom lebih mengutamakan keberagaman ras dan penghargaan terhadap semua orang. Sehingga dengan alasan itu, kerjasama dengan brand Ivanka dihentikan. Karena Ivanka terkait langsung dengan Trump, yang kebijakannya sangat rasis, melanggar inti dasar jiwa Amerika yang pluralis, dan dianggap tidak manusiawi terhadap para imigran.

Setelah Nordstrom, bergantian brand lainnya memutus kerjasama dengan Ivanka. Produk-produk Ivanka dijual diskon besar-besaran hingga 70%, dicopot dari website mereka, dan ada satu lagi brand gerai fashion yang cukup besar meletakkan produk Ivanka dalam posisi yang tidak mudah terlihat. Sampai-sampai seorang jurnalis yang hendak mencari produk tersebut, kecapekan mengubek-ubek toko.

Inilah yang disebut dengan collateral damage. Alias kerusakan yang dialami sebuah brand, sebagai imbas dari keterkaitannya dengan brand lain yang sedang rusak. Ivanka lagi sial banget, karena konotasinya dengan trump yang terlalu dekat. Padahal kalau dari segi produk sih, menurut saya oke. Baju, sepatu, dan pernik-pernik brand Ivanka, modern dan urban banget. Cocok untuk cewek sibuk atau cewek kantoran yang menginginkan busana yang simpel dan tetap elegan.

Hillary bisa dibilang sebagai sebuah brand yang mengalami collateral damage juga, akibat warisan skandal dari Bill Clinton semasa menjabat sebagai presiden. Kemana-mana, kalau ia bicara isu perempuan, selalu saja isu skandal suaminya muncul. Memiliki pasangan mantan presiden, kadangkala lebih merepotkan, dan jadi liability ketimbang aset.

Kalau di Indonesia, sekarang AHY yang kena. Ayahnya yang mantan presiden, terlalu kelihatan ingin ikut campurnya. Meskipun statusnya sebagai petinggi partai, tetapi jadinya bikin Agus tidak terlihat independen. Bayangan sebagai anak papinya lebih kentara, dan itu tidak menguntungkan.

Di sinilah letak seni positioning sebuah brand. Keterkaitan kita dengan brand lain, adakalanya justru tidak menguntungkan. Sebab, persepsi orang akan tergiring pada siapa yang menjadi partner kita, dan apa yang mereka usung. Value, prinsip, kebijakan, dan lainnya. Dan pada saat itu, idealnya, kita musti bisa dengan tegas membedakan, dan melakukan repositioning.

Ivanka dan Agus, mungkin sulit. Kaitan mereka terlalu dekat dengan brand bapaknya. Apalagi Ivanka, yang sekarang mendapat posisi strategis di Gedung Putih. Dia ikut menjalankan dan mempengaruhi sebagian kebijakan ayahnya. Kalau keduanya tidak dengan tegas mengambil garis, maka apa boleh buat. Terpaksa harus menelan efek samping berupa collateral damage tadi.
——————————

Artha Julie Nava
Certified Personal Branding Strategist | Certified Social Branding Analyst

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s